Liga Indonesia

Wakil Presiden FIFA kecam kasus Diego Mendieta

M Mirza

Sabtu,  15 Desember 2012  −  07:25 WIB
Wakil Presiden FIFA kecam kasus Diego Mendieta
Wakil Presiden FIFA Pangeran Ali bin al-Hussein/ Ist

Sindonews.com - Wakil Presiden FIFA Pangeran Ali bin al-Hussein mengecam atas kasus meninggalnya pesepakbola Diego Mendieta yang menurutnya harus menjadi pelajaran bagi penyelenggaraan kompetisi sepakbola di Tanah Air. Mantan pemain Persis Solo asal Paraguay itu menjadi korban dari kurangnya perhatian pihak klub. Dia mengembuskan napas terakhir lantaran tidak menerima perawatan memadai selama berada di rumah sakit Dr Moewardi. Terjadinya kisah pilu ini karena Diego tidak punya uang untuk biaya pengobatan lantaran gajinya belum dibayar.

Karena itu, melalui Pangeran Ali organisasi sepakbola dunia itu mengungkapkan kekecewaannya atas tragedi ini. Pangeran Ali mengeluarkan komentarnya setelah menandatangani MoU antara AFC dan UEFA di Kuala Lumpur, Malaysia. Dia mengatakan, kejadian tersebut merupakan efek dari konflik yang terjadi di tubuh sepakbola Indonesia. Cepat atau lambat, dampak lainnya akan segera muncul.

“Ini dampak kecil dari konflik yang terjadi di sepak bola Indonesia. Karena itu, kami akan berupaya menyelesaikan masalah ini secepatnya. Para elite sepakbola Indonesia harus sadar bahwa mereka adalah pelayan rakyat. Jika mereka ingin melayani masyarakat, mereka harus menyelesaikan perbedaan itu,” kata Pangeran Ali seperti dikutip Bernabas.

Kasus ini tidak akan terjadi jika persepakbolaan Indonesia mencontoh negara lain. Di luar negeri,pemain sepakbola sangat diperhatikan. Jika ada yang sakit dan harus dirawat, pihak klub terus memberi dukungan. Mereka bahkan tetap mendapat bantuan finansial seandainya harus pensiun akibat penyakit yang diderita.

Eric Abidal misalnya, Bek Barcelona itu pernah didiagnosis menderita tumor hati cukup parah pada 15 Maret 2011. Karier pemain asal Prancis itu ditengarai bakal berakhir lantaran harus menjalani operasi. Tapi, ceritanya berbeda. Selain sembuh total dari penyakitnya, dia juga tetap merumput bersama El Azulgrana.
Suksesnya Abidal melewati masa sulit berkat dukungan terus menerus dari Barcelona dan fans. Rekan-rekannya selalu mengenakan seragam bertuliskan “Semoga Lekas Sembuh Abidal” sebelum kick-off. Para pendukung juga tidak ketinggalan memberi dukungan dengan cara tersendiri. Barcelona juga terus terlibat selama proses pemulihan Abidal. Klub Katalan tersebut ikut membantu mencarikan pendonor. Maklum, Abidal harus menjalani transplantasi hati agar nyawanya terselamatkan.

Fabrice Muamba juga bisa dijadikan contoh lain. Mantan gelandang Bolton Wanderers tersebut sempat jatuh pingsan ketika melawan Tottenham Hotspur, 17 Maret lalu. Saat itu, jantungnya sempat berhenti berdetak. Beruntung, dia masih bisa diselamatkan setelah dilarikan ke rumah sakit. Setelah menjalani perawatan selama dua pekan, kondisi Muamba mulai membaik.

Dia sekarang sudah pulih total walau sudah tidak lagi menjadi pesepakbola. Tapi, selama masa pemulihan, Bolton dan fans terus memberinya sokongan moril. “Saya berharap bisa melanjutkan karier suatu saat nanti dan bermain bersama Bolton,” ucap Muamba.

Abidal dan Muamba bukan satu-satunya yang terus mendapat dukungan ketika mengalami masa sulit. Kapten Aston Villa Stiliyan Petrov tetap diperhatikan ketika tim dokter mendiagnosanya mengidap leukemia akut, 30 Maret lalu. Penyakit itu akibat efek radiasi nuklir Chernobyl yang mengenainya semasa kecil. Biasanya pemain yang terserang penyakit seperti ini punya kans kecil untuk bertahan hidup. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Petrov masih menemani rekan-rekannya di Villa walau belum diizinkan bertanding.

Dia sedang menjalani sejumlah terapi bersama tim ahli. Yang patut ditiru adalah sikap klub dan pemain lainnya.Selama beberapa bulan terakhir,mereka tidak pernah berhenti memberi semangat kepada Petrov. Villa menyatakan tidak akan terus menunggu sampai dia bisa beraktivitas lagi. Petrov bahkan tetap diangkat sebagai kapten The Villans, julukanVilla.



 

(akr)

shadow