Liga Indonesia

SSB Coerver mencetak calon pemain dunia dari Bandung

Gugum Rachmat Gumilar

Selasa,  19 Februari 2013  −  23:27 WIB
SSB Coerver mencetak calon pemain dunia dari Bandung
Para pemain belia mengikuti instruksi pelatih/Gugum Rachmat Gumilar/Koran Sindo

Sindonews.com - Coerver Coaching Soccer School (CCSS) memperluas jangkauannya hingga ke tanah air.  Di Indonesia, akademi yang telah memiliki jaringan internasional ini memilih Kota Bandung sebagai lokasi pelatihan.

CCSS merupakan akademi sepak bola usia dini yang diprakarsai pelatih ternama asal Belanda Wiel Coerver. Meski telah meninggal pada 22 April 2011, sistem kepelatihan dan pembinaan yang digagasnya masih dipakai, bahkan menjadi salah satu yang terbaik di seluruh dunia.

Wiel Coerver juga pernah memoles skuad Tim Nasional Indonesia di dekade 1970-an. Beberapa legenda sepak bola nasional pernah menjadi anak didiknya. Antara lain Iswadi Idris, Ronny Pattinasarani, Yusuf Bachtiar, dan Risdianto. Di pentas Eropa, pelatih kelahiran Limburg, Belanda, 3 Desember 1924 itu berhasil membawa Feyenoord Rotterdam menjuarai piala UEFA musim 1973/1974.

CCSC pertama kali dirintis Coerver pada 1984. Dengan perkembangan yang terbilang pesat, akademi ini sudah menyebar ke seluruh dunia dengan total siswa mencapai 1,5 juta. Salah satu pesepakbola yang mendunia hasil dari metode pembinaan Coerver adalah pemain Timnas Belanda di Piala Dunia 1998, Boudewijn Zenden.

Kini, masyarakat sepakbola Indonesia, khususnya Bandung bisa mencoba konsep pelatihan ala Coerver secara langsung. Akademi CCSC yang baru beroperasi dalam beberapa hari terakhir ini memilih lokasi Coerver Football Park, Jalan Rancabulan, Ciumbuleuit, Bandung, sebagai lokasi latihan. Para siswa akan memakai lapangan terbuka seukuran tiga lapangan futsal yang dilengkapi rumput sintetis. SSB ini menitikberatkan pembinaan pada skill individu pemain.

"Coerver Coaching merupakan akademi sepak bola dengan konsep pembinaan berjenjang dengan mengedepankan teknik individu. Para siswa di Bandung akan menerima materi yang sama dengan siswa CCSS di negara lain, seperti negara-negara Eropa, Amerika, dan Jepang," kata Direktur CCSS Bandung Raymond Hadinata.

Sementara itu, Wakil Presiden Coerver Coaching Wilayah Asia Fasifik, Jason Lancsar mengaku yakin dengan potensi sepakbola yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, anak-anak di tanah air, terutama Bandung mempunyai bakat istimewa.  Bahkan Jason menyejajarkan dengan potensi di negara Asia yang sepakbolanya sudah maju, seperti Australia dan Jepang.

"Bakat sepakbola anak-anak Indonesia sangat baik. Yang menjadi masalah di negeri ini adalah pembinaannya. Termasuk cara mereka untuk berlatih dengan benar, disiplin tinggi, dan fasilitas yang memadai. Jika semua faktor tersebut terpenuhi, saya yakin anak-anak Bandung bisa bersaing dengan pesepakbola negara maju," ujar Jason.

Mantan pilar Timnas Indonesia Yusuf Bachtiar, yang juga pernah dilatih Wiel Coerver mengaku bangga dengan masuknya CCSS ke Indonesia, terlebih Kota yang dipilih adalah Bandung. Menurutnya, konsep pembinaan Coerver sangat efektif dalam meningkatkan skill individu seorang pesepakbola.

"Saat saya dilatih Coerver, dia selalu mengajarkan kedisiplinan dan profesionalisme. Saya juga diajarkan untuk berani menghadapi tantangan dan keluar dari kondisi sulit. Secara pribadi, teknik individu saya sangat terbantu dengan sentuhan Coerver. Dan skill individu merupakan salah satu yang terpenting dalam permainan sepakbola," ujarnya.

 

(aww)

shadow