Periskop

Yang mewah di jalan raya

Koran SINDO

Minggu,  24 Maret 2013  −  13:49 WIB
Yang mewah di jalan raya
Salah satu mobil mewah dalam suatu pameran di Jakarta. (Sindo)

Menyaksikan mobil mewah seperti Bentley, McLarens, atau Ferrari melintas di jalanan Jakarta beberapa tahun lalu adalah hal luar biasa. Tetapi kini, melihat mobil-mobil mewah tersebut berseliweran di jalan-jalan Ibu Kota sudah menjadi pemandangan yang tak asing.

Populasi mobil mewah di Indonesia kini terus meningkat. Malah, tahun ini diperkirakan bakal hadir beberapa supersport car yang akan menambah panjang lineup mobil mewah di Tanah Air. Sebut saja Lamborghini Aventador Roadster, mobil canggih dari keluarga Aventador.

Produk prestise pabrikan Italia yang mengusung mesin V12 ini semakin melengkapi line up Lamborghini di Indonesia. Sementara itu, Ferrari mengandalkan jenis F150 yang dibanderol 800.000 poundsterling (Rp11,8 miliar). Mobil ini menawarkan teknologi KERS F1-gaya hibrida dan bisa menghasilkan tenaga hingga 800 bhp.

Tidak sedikit pencinta Ferrari di Indonesia yang disebut-sebut sudah memesan mobil berlambang “Kuda Jingkrak” yang dilansir Maret 2013.

Lalu, pabrikan asal Jerman Mercedes Benz juga tak mau ketinggalan. Produsen automotif yang bermarkas di Stuttgart, Jerman ini rencananya akan meluncurkan jenis SLS Black Series yang diperkirakan dibanderol sekitar USD350.000 (Rp5,1 miliar). Langkah serupa juga diikuti McLaren dengan McLaren P1 dan Porsche dengan Porsche 918 Spyder.

Melihat fakta seperti itu, membuktikan bahwa Indonesia menjadi pasar potensial bagi penjualan mobil-mobil mewah yang harganya miliaran rupiah.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat pertumbuhan kelas menengah yang cukup signifikan. Analis IHS Automotive Jessada Thongpak memperkirakan tahun ini merek-merek seperti Bentley dan McLarens akan bersanding dengan mobil-mobil produk Jepang yang harganya di kisaran ratusan juta rupiah.

Tahun lalu, pasar mobil Indonesia tumbuh 25% menjadi 1,1 juta unit dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mendekati pasar Thailand yang mencapai 1,4 juta unit kendaraan.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta, Indonesia berpotensi menyerap mobil lebih besar lagi. “Indonesia akan muncul menjadi pasar terbesar di wilayah ini pada 2014”, kata Thongpak sebagaimana dikutip AFP.

Menurutnya, saat ini tingkat kepemilikan mobil di Indonesia masih 45 kendaraan per 1.000 orang. Angka ini lebih sedikit dibanding Thailand yang jumlahnya 145% lebih besar.

Tetapi dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6% dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kepemilikan mobil di Indonesia diprediksi akan meningkat. Di Jakarta saja, dia memperkirakan ada pertumbuhan 288 mobil setiap hari.

Pertumbuhan ini lebih dinikmati mobil Jepang dibanding produsen Barat. Bisa dimaklumi, produk automotif Barat kurang kompetitif dibandingkan Jepang.

Pasalnya, mereka menanggung biaya impor yang lebih besar, karena umumnya produk mereka kategori mobil mewah. Uni Eropa (UE) sudah pernah melakukan pembicaraan dengan Indonesia untuk membuat pasar lebih terbuka dan memungkinkan perusahaan Eropa lebih bersaing. Namun, belum ada perkembangan yang menarik dari pembicaraan tersebut.

Merek seperti Mercedes dan BMW harus menanggung pajak hingga 40% jika mereka mengimpor produk. Sementara jika komponennya sudah bercampur lokal, pajaknya sekitar 10% hingga 15%. “Semua brand global sudah ada di Indonesia. Mereka telah melakukan investasi yang besar dan melakukan pengembangan kapasitas produksi,” tambah Thongpak.

Di sejumlah tempat di Jakarta, mobil mewah dan sport bakal umum dijumpai, walaupun jumlahnya tidak banyak. Bahkan menurut Walter van Hattum, trade officer pada delegasi UE untuk Indonesia, jumlah mobil mewah di Jakarta lebih banyak dibanding Brussels Belgia. Di Jakarta, masyarakat mudah melihat mobil Rolls Royce, Ferrari, McLaren, atau Lamborghini diparkir di pusat perbelanjaan.

 

(hyk)

shadow