Liga Indonesia

PSSI vonis IPL bubar?

Minggu,  31 Maret 2013  −  20:32 WIB
PSSI vonis IPL bubar?
IPL / ist

Sindonews.com  – Hidup segan mati tak mau, seolah jadi gambaran miris sebagian besar klub-klub Indonesia Premier League (IPL) musim kompetisi 2012/2013. Di bawah kendali Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) sebagai operator, IPL pun jadi kompetisi tanpa adanya kejelasan.

Tidak jelas hidup atau mati, jadi fakta IPL selepas terselenggaranya Kongre Luar Biasa (KLB) PSSI 17 Maret lalu. Unifikasi liga yang disetuji dalam KLB tersebut, membuat gairah kompetisi yang baru dua musim belakangan ini berjalan ada dititk nadir. Awan gelap pun menghinggapi klub-klub yang tidak diakui oleh PSSI keberadaannya.

Persija Jakarta IPL misalnya. Klub besutan Eduart Tjong ini dipastikan mengambil langkah mundur, setelah Persija yang berlaga di kompetisi Indonesia Super League (ISL) yang akhirnya diakui PSSI. Persija IPL pun akhirnya bubar jalan, walau belum secara resmi menyampaikan hal tersebut.

“Kami realistis saja, setelah hasil KLB yang mengvonis kami tidak diakui oleh PSSI. Sudah tidak ada gunanya lagi kami mengikuti kompetisi. Jika dibilang bubar, ya bisa dikatakan seperti itu. Walau secara resmi belum,” ungkap salah satu pengurus Persija IPL, Bambang Soejipto saat dihubungi Sindo, Minggu (31/3/2013).

“Untuk pemain dan pelatih pun saat ini kami pulangkan. Kami tentu tidak mau memberikan harapan kosong kepada mereka. Mereka punya keluarga, mereka perlu biaya menyambung hidup. Jika terus disini, mungkin akan menyulitkan mereka,” sambungnya.

Apa yang disampaikan Bambang tentu juga dialami beberapa klub IPL lainnya. Dan dari fakta yang ada, kompetisi IPL sudah berjaln dengan tidak semestinya dari awal kompetisi. Ketidak jelasan soal pemegang hak siar, pertandingan-pertandingan yang diputuskan Walk Out (WO) atau ditunda, jadi berbagai masalah yang terus menghantui.

Tercatat, sampai pekan kelima atau Sabtu (30/4/2013), tercatat sudah ada 12 pertandingan yang tidak jadi dimainkan entah karena ditunda atau diputuskan WO. Adanya salah satu laga yang akhirnya diputuskan WO adalah laga antara PSM Makassar kontra Persema Malang, Rabu (27/3).

Masalah-masalah itu pun jadi catatan tersendiri bagi Bambang. Dimana sebelumnya pihak LPIS selalu menjanjikan hal-hal manis kepada klub-klub kontestan peserta IPL. Bambang pun tidak mau jika Persija yang dipimpinnya memaksakan diri untuk berjalan.

“Satu tahun kemarin, kami masih diakui FIFA dan sekarang sudah dianggap ilegal. Saat ini kami kembalikan semuanya kepada LPIS dan PT MBI (Mitra Bola Indonesia) sebagai konsorsium. Kami mau sampai kapan seperti ini, tentu kami menunggu para penyandang dana. Kami tidak mau memaksakan untuk jalan terus,” papa Bambang.

“LPIS pun seharusnya bertanggung jawab. Mereka itu selalu menjanjikan hal-hal yang luar biasa kepada kami, tapi apa yang mereka janjikan tidak satupun yang terlaksana. Contoh, katanya aka nada kucuran dana 30 ribu USD dari kerjasama dengan News Corp. Tapi apa kenyataannya?,” tanya Bambang dengan nada parau.

Ketidakcakapan LPIS dalam menjaga stabilitas kompetisi juga disampaikan klub-klub peserta Divisi Utama. PSMS Medan yang mewakili 24 kontestan Divisi Utama di bawah operator LPIS dengan menempatkan Widjajanto sebagai CEO, kembali melihat gelagat tidak jelasnya penyelenggaraan kompetisi kasta kedua tersebut.

Fakta itu terlihat dari penundaan managers meeting yang seharusnya dijalani semua kontestan Divisi Utama di bawah kendali LPIS. Awalnya forum yang akan membahas detail kompetisi dan lain sebagainya seharusnya dilakukan, Sabtu (30/3), yang lalu, tapi forum itu tidak terlaksana. Dan kabarnya akan dijadwalkan ulang selama tiga hari yaitu 1-4 April mendatang.

“Kami akan menanyakan ketegasan dan komitmen penyelenggaraan kompetisi, apakah liga akan benar-benar berjalan sampai akhir musim atau tidak. Kami perlu tahu kepastian itu, karena hal-hal seperti akan sangat berhubungan dengan pihak-pihak sponsor yang menjalin kerjasama dengan kami,” papar CEO PSMS Medan versi LPIS, Wimvi Tri Hadi Irawan.


(wbs)

views: 1.171x
shadow