Liga Indonesia

Deretan legiun asing gagal bersinar di klub Jatim

Kamis,  26 September 2013  −  14:43 WIB
Deretan legiun asing gagal bersinar di klub Jatim
Emanuel Linkers (tengah) ketika masih membela PSIS Semarang/Andik Sismanto/Koran Sindo

Sindonews.com - Keberadaan pemain asing menjadi salah satu pembahasan jelang kompetisi unifikasi 2014. Kuota pemain asing disebut-sebut bakal mengalami perubahan untuk memberi kesempatan lebih besar kepada pemain domestic di lapangan.  
Pemain asing selayaknya bertujuan untuk merangsang atau memberikan daya kompetitif kepada pemain lokal karena kualitasnya dianggap lebih baik. Tapi kenyataannya tidak selalu seperti itu. Banyak pemain asing yang kualitasnya sama atau malah di bawah pemain lokal.
 
Musim ini saja banyak pemain asing yang kurang bersaing dan terpaksa harus meninggalkan tim lebih awal. Atau jika mereka bertahan hingga akhir musim, tak memberikan kontribusi menggembirakan. Empat tim Indonesia Super League (ISL), Arema Cronous, Persela Lamongan, Persegres Gresik United dan Persepam Madura United, semuanya mengalami kegagalan rekrutmen pemain impor.
 
Memang masih ada sejumlah pemain asing yang tetap menunjukkan pamornya, seperti Beto Goncalves (Arema Cronous), Shohei Matsunaga (Persegres GU), atau Ali Khadaffi (Persepam MU). Ada pula dengan kualitas standar macam Mario Costas dan Inkyun Oh (Persela Lamongan), atau Thierry Gathuessi (Arema Cronous).
 
Selain mereka, ada beberapa pemain yang penampilannya justru jauh di bawah harapan klub. Mereka terlihat bagus di klub sebelumnya atau saat seleksi, tapi tak bisa berbuat banyak ketika sudah di lapangan. Inilah pemain-pemain asing yang gagal di Jawa Timur;
 
1. Gustavo Chena  (Persegres GU)
 
Playmaker sekaligus kapten Persegres Gresik United ini harus menerima kenyataan terpental dari Stadion Petrokimia di tengah musim. Permainan yang kurang menjanjikan hingga separuh musim, sekaligus tak bisa menjaga keharmonisan tim menjadi alasan utama pemecatan Chena. Sebagai kapten, idealnya dia menjaga hubungan antar pemain. Tapi tidak, Chena malah beradu jotos dengan Shohei Matsunaga sebelum laga menjamu Arema Cronous di putaran pertama ISL. Persegres memiliki semua alasan untuk tidak memperpanjang kerja pemain ini di Gresik, walau sempat bermain regular di awal kompetisi.
 
2. Park Chul Hyung (Persegres GU)
 
Di awal musim, Persegres terlihat begitu tangguh dengan duet Sasa Zecevic dan Park Chul Hyung. Sayang Park yang sebelumnya bermain apik di Persela Lamongan, gagal menjawab ekspektasi Persegres walau sempat menjadi kekuatan inti di putaran pertama. Kolaborasinya dengan Sasa gagal total hingga pelatih Widodo C. Putro yang menggantikan Suharno, terpaksa harus melepasnya di pertangahan musim. Keputusan itu terbukti benar karena rekrutmen baru yakni Ambrizal bisa memerankan tugas centre back dibandingkan sejak masih ada Park.
 
3. Han Sang Min (Persela)
 
Pemain asal Korea Selatan ini sangat beruntung bisa bertahan di Persela Lamongan hingga akhir musim. Melamar ke Stadion Surajaya sebagai centre back walau posisinya aslinya adalah gelandang, Han Sang Min tak pernah menunjukkan permainan memuaskan. Sudah begitu grafiknya terus menurun, hingga di akhir musim pelatih lebih percaya pada bek lokal Djayusman Triasdi.
 
Padahal sebelumnya Han Sang Min menjadi pilihan utama dan Djayusman adalah penghangat bangku cadangan. Ini sekaligus menjadi pelajaran bagi Persela dalam merekrut pemain yang sebenarnya bukan posisi idealnya.
 
4. Edmar Garcia (Arema Cronous)
 
Disebut-sebut memiliki kualitas di atas rata-rata sebagai pemain tengah, Edmar Garcia tak kunjung muncul di tim utama hingga akhir musim. Arema sebenarnya merekrut pemain berpaspor Australia ini untuk mempercerdas lini tengah yang dianggap kurang bergairah. Sayang gangguan cedera dan permainan kurang impresif membuat Edmar lebih banyak di luar lapangan sejak bergabung Singo Edan di putaran dua ISL. Nyaris pemain ini tidak memiliki kontribusi memadai dibanding pemain lokal yang berposisi sama dengan dia. Untuk musim ini, bisa dikata perekrutan Edmar sia-sia.
 
5. Christopher Gomez (Persepam MU)
 
Di putaran dua ISL, Persepam mendepak Kristian Adelmund untuk memberikan jalan kepada Christopher Gomez. Tujuannya gamblang, memperkokoh lapangan tengah karena Gomez dianggap pemain yang memiliki skill individu tinggi. Sayang skenario tersebut melenceng jauh. Pemain berkewarganegaraan Australia itu lemah gemulai dan tidak bisa beradaptasi dengan permainan Sape Kerap yang cepat dan taktis. Beberapa dicoba sebagai starter, Gomez sudah diganti di separuh pertandingan. Pelatih Daniel Roekito pun melepas pemain ini sebelum putaran dua ISL berakhir.
 
6. Emanuel Linkers (Persepam MU)
 
Kepergian Osas Saha ke Persisam Samarinda di tengah ISL, membuat Persepam langsung merekrut Linkers, striker berpaspor Belanda. Diharapkan bisa menggantikan Osas Saha di Gelora Bangkalan, dia malah tidak kunjung mencetak gol. Diduetkan dengan Zaenal Arif, Linkers semakin kehilangan kepercayaan dirinya ketika tak berujung menemukan gawang lawan. Hanya dua gol sejak bergabung di putaran dua ISL adalah catatan yang buruk alias tidak pantas bagi seorang pemain asing.


(aww)

views: 1.651x
shadow