alexa snippet

Liga Champions 2017/2018

Preview Liverpool vs Spartak Moscow: Atmosfer Final

Preview Liverpool vs Spartak Moscow: Atmosfer Final
Mohamed Salah telah menyumbang 16 gol bagi Liverpool baik di Liga Primer maupun di Liga Champions. GRAFIS/KORAN SINDO
A+ A-
LIVERPOOL - Kadang realisasi perjalanan tim sepak bola itu tidak semudah yang ditulis di atas kertas dan disampaikan para pundit. Seperti apa yang dialami Liverpool di Grup E Liga Champions. Diprediksi bakal melangkah mulus, nasib mereka masih harus ditentukan pada laga terakhir.

The Reds memang menempati puncak klasemen grup. Namun, jarak poin dengan peringkat 2 Sevilla dan Spartak Moscow di posisi 3 tidak terlalu jauh. Liverpool memiliki nilai 9, Sevilla (8), dan Spartak (6). Nasib serta masa depan Liverpool dan Juergen Klopp akan ditentukan saat mereka menjamu Spartak di Stadion Anfield, Kamis (7/12/2017) dini hari nanti. Kalah, berarti Liverpool harus tersingkir dan bermain di kasta kedua Eropa, Europa League.

"Mungkin sedikit tekanan, tapi saya pikir di sepakbola selalu mendapat tekanan sebelum pertandingan. Mungkin ini final untuk Spartak dan kami. Kami juga bisa memenangkan sesuatu. Kami bisa menyelesaikan puncak grup. Kami hanya perlu fokus pada hal-hal positif," kata penjaga gawang Liverpool Loris Karius, dikutip ESPN.

Sejauh ini performa The Reds terus memperlihatkan tren positif. Setelah dibantai Tottenham Hotspur di Stadion Wembley (22/10/2017), Liverpool tak pernah tersentuh kekalahan. Dari delapan pertandingan, mereka mencatat 6 kemenangan dan 2 kali imbang. Bukan cuma menang, Jordan Henderson dkk juga tampil menyerang dengan menyarangkan 25 gol dan hanya kebobolan 6 gol. Hasil tersebut mengembalikan mereka ke jalur 4 besar Liga Primer sekaligus menjadi modal bertarung melawan Spartak.



Agresivitas Liverpool sejatinya bukan saja berkat penampilan Mohamed Salah yang menggila dengan produktivitasnya di daftar pencetak gol terbanyak, tapi juga kembalinya Sadio Mane dari cedera, dan mulai pulihnya naluri "membunuh" Roberto Firminho.

Selain itu, Klopp juga berani mengotak-atik formasi dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Seperti saat bertandang ke Brighton and Hove Albion, arsitek tim berusia 50 tahun itu menggunakan formasi 3-4-2-1. Hasilnya, mereka mampu melesakkan lima gol ke gawang tuan rumah. Sementara saat menghadapi Stoke City, Klopp bermain dengan 4-3-2-1 dan berhasil melesakkan tiga gol. Formasi ini berbeda saat mereka menahan imbang Chelsea 1-1, di mana mantan pelatih Borussia Dortmund itu menggunakan 4-1-4-1 yang menjadi standar permainan The Reds.

Namun, tak berarti Liverpool boleh berkacak pinggang saat menjamu Spartak. Dari lima pertandingan yang di jalani pada Liga Champions, Liverpool hanya meraih dua kemenangan, itu pun melawan Maribor. Sisanya, melawan Sevilla, mereka bermain imbang 3-3 dan 2-2 dan 1-1 saat bertandang ke Spartak.

Barisan belakang juga menjadi perhatian karena mereka seperti kesulitan mencatatkan hasil clean sheets, bahkan saat mereka sudah unggul. Lihat saja saat menghadapi Sevilla. Pada leg kedua, sempat leading 3-0 pada babak pertama The Reds kemudian bobol tiga gol pada paruh kedua. Sementara pada leg pertama Liverpool sudah unggul 2-1, tapi harus puas dengan imbang setelah kebobolan pada menit ke-72.

Belum lagi Klopp harus bersiap dengan absennya Joel Matip yang mengalami cedera otot paha sehingga dipastikan tidak bisa tampil melawan anak asuh Massimo Carrera. Absennya, Matip dikhawatirkan bisa membuat lini belakang The Reds berlubang. "Matip mengalami masalah pada ototnya. Saya tidak tahu berapa lama akan absen. Namun, saya bisa mengonfirmasi Matip tidak akan bermain pada Rabu. Kami harus menunggu karena mungkin pemulihan berlangsung lebih cepat," ujar Klopp.

(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top