alexametrics

Berpotensi, Sayang Olahraga Indonesia Belum Tergarap

loading...
Berpotensi, Sayang Olahraga Indonesia Belum Tergarap
GM APPI (Ponaryo Astaman), ?Direktur Bisnis dan Marketing Barito Putra (M Arifin), ? Sesmenpora (Gatot S Dewabrata), Presiden Direktur Munial Sport Grup (Mulyawan Munial) dan CEO Futbalisius (AndikaSuksmana). Foto : Ratna Purnama
A+ A-
DEPOK - Potensi industri olahraga di Indonesia saat ini mengalami kemajuan. Potensi ini seharusnya bisa dikelola dengan baik untuk mendatangkan efek positif bagi negara dan bangsa.

Hanya saja saat ini potensi itu masih belum saling sinergi satu sama lain. Sehingga pemerintah pun tengah berupaya melakukan sinergitas untuk membuat roadmap mengenai potensi industri olahraga.



Dengan demikian, cabang olahraga yang ada bisa hidup tanpa ketergantungan dana dari pemerintah. Jika pihak swasta dan masyarakat bisa mendorong kemajuan cabang olahraga maka beban pemerintah pun bisa lebih ringan. Untuk itu Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) menggelar diskusi bertajuk Hukum dan Olahraga di Indonesia.

Hadir dalam diskusi tersebut Sekretaris Kementrian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewabroto, General Manager Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) Ponaryo Astaman serta dari pelaku industri olahraga. Antara lain Direktur Bisnis dan Marketing Barito Putra M Arifin, Presiden Direktur Munial Sport Grup Mulyawan Munial dan CEO Futbalisius Andika Suksmana.

Kekuatan olah raga di indonesia pada jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa diyakini bisa menjadi potensikekuatan ekonomi yang bisa dilakukan oleh seluruh masyarakat. Hal ini dinilaidari data yang diterima oleh kemenpora bahwa untuk setiap pertandingan klubsepak bola tanah air, penjualan tiketnya mampu mencapai Rp 1 milliar.

Pencapaian angka tersebut tentunya belum di akumulasi dengan penjualan merchandise,  makanan dan minumandi sepanjang kompetisi berlangsung. Bahkan tak sedikit outlet supporter klub yang pelaku usahanya anak muda kreatif yang bisa memaksimalkan omzet penjualan merchandisenya.

Gatot S Dewabroto mengatakan, ada kesalahan yang sangat struktural dalam pandangan olahraga di indonesia yang masih mengandalkan APBM. Berbeda dengan di luar negri dimana olah raga sudah menjadi industry.

“Di Indonesia hanya mengandalkan APBN dan APBD. Sehingga mulai tahun ini kita berharap semua melihat dalam frame industri. Contohnya adalah bulu tangkis bisa hidup tanpa APBN. Semoga cabang olahraga lainnya juga bisa,” katanya.

Belajar dari persoalan terdahulu yaitu kasus pembalap F1 RioHaryanto yang kesulitan mendapatkan sponsor maka pemerintah sudah mulai memperbaiki. Diyakini Gatot kasus ini tidak akan terulang di tahun-tahun berikutnya. “Pemerintah kini sudah melakukan evaluasi dengan membuka Badan Layanan Umum (BLU). Tujuannya bisa mengeneralisir sponsor yang masuk dan akan disalurkan ke cabang olahraga yang dituju,” tukasnya.

Dengan adanya BLU ini maka cabang olahraga yang belum dilirik diharapkan bisa memiliki ‘bapak angkat’. Dalam hal ini tentunya perusahaan akan mengincar cabang olahraga yang popular. Namun kementrian juga berupaya membawa para sponsor itu untuk juga menjadi bapak asuh cabang olahraga lain yang belum popular.“Kami mendorong olah raga yang belum popular untuk memiliki bapak angkat,”paparnya.

Ponaryo Astaman menambahkan, olahraga sepab bola di Indonesia saat ini memang sudah menjadi industri. Di mana para pemainnya memiliki ikatan kerja yang profesional sehingga elemen lainnya pun harus ikut profesional juga. Dan industri sepak bola menunjukkan tren yang semakin besar tiap tahunnya. “Ini yang harus disikapi oleh pesepakbola dan seluruh stakeholder sepak bola,” kat Ponaryo.

Dengan demikian maka ada paradigma yang juga harus diubah. Jika dulu bola hanya dijadikan sebatas hobi, maka sekarang harus ditekuni dengan profesional.“Prestasi harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana melihat ini sebagai industri dan disikapi profesional. Kaitan dengan pemain, sekarang mereka lebih tinggi makaharus diatur lebih baik dan bukan hanya sekadar sebuah ikatan kontrak biasa. Ada hak dan kewajiban baik secara individu dan kolektif (profesi). Ini yang harus diatur sehingga
tidak terabaikan begitu saja,” tukasnya.

Ketua Pelaksana 2 Dekade Alumni FHUI 1998, Carolina Marta menambahkan kegiatan ini akan berlangsung selama empat hari mulai 23-27 April 2018. Melalui kegiatan ini diharap alumni jugabisa berkontribusi mewujudkan visi misi FHUI. “Talkshow ini sebagai bentuk kontribusi untuk acara Pulamg Kampus yang merupakan sebuah inisiatif DekanatFHUI,” katanya.
(bbk)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak